Perbedaan Hasil dan Pembahasan dalam Artikel Ilmiah

Update

7 menit

Hasil dan pembahasan adalah dua bagian yang paling sering tertukar dalam struktur IMRaD.

Ini bukan masalah sepele. Reviewer jurnal sering menandai naskah untuk revisi mayor hanya karena dua bagian ini bercampur.

Penyebabnya biasanya sederhana. Penulis merasa sudah “membahas” data begitu selesai mendeskripsikannya secara panjang lebar.

Padahal mendeskripsikan bukan berarti membahas. Ada garis pemisah yang jelas antara keduanya, dan garis itu sering dilanggar tanpa disadari.

Artikel ini akan membedah perbedaan tersebut secara mendalam. Bukan hanya definisi, tapi juga contoh nyata, cara mendeteksi kesalahan di naskah sendiri, dan cara memperbaikinya.

Perbedaan Mendasar: Fakta vs Makna

Cara paling sederhana memahami perbedaan ini adalah lewat satu pertanyaan.

Bagian hasil menjawab: “Apa yang ditemukan?”

Bagian pembahasan menjawab: “Apa artinya, dan mengapa itu penting?”

Perbedaan ini terlihat sepele di atas kertas. Tapi dalam praktiknya, banyak penulis kesulitan menjaga jarak antara keduanya, terutama ketika mereka sudah terlalu dekat dengan data sendiri.

Semakin lama seorang peneliti bergelut dengan datanya, semakin sulit ia melihat data itu secara “polos”. Setiap angka sudah otomatis terhubung dengan makna di kepalanya. Masalahnya, makna itu belum tentu jelas bagi pembaca yang baru pertama kali melihat data tersebut.

Analogi berikut mungkin membantu. Bayangkan laporan cuaca dan analisis dampaknya.

Laporan cuaca berbunyi: “Hari ini hujan deras, 50mm dalam 2 jam.”

Analisis dampaknya berbunyi: “Curah hujan setinggi ini berpotensi menyebabkan banjir di wilayah dataran rendah, terutama karena kondisi drainase kota yang belum memadai.”

Perhatikan bahwa kalimat kedua tidak sekadar mengulang angka 50mm. Ia menambahkan konteks baru: kaitan dengan kondisi infrastruktur, dan konsekuensi yang mungkin terjadi.

Itulah esensi pembahasan yang baik. Bukan mengulang fakta dengan kalimat lebih panjang, tapi menyambungkan fakta dengan sesuatu yang lebih besar.

Apa yang Boleh dan Tidak Boleh Ada di Bagian Hasil

#1. Yang Boleh Ada

Bagian hasil idealnya ditulis seolah-olah penulis tidak punya opini sama sekali tentang datanya.

Ini terdengar tidak wajar, memang. Namanya juga penelitian sendiri, wajar jika penulis punya pandangan tentang apa yang ditemukan.

Tapi justru di sinilah disiplin menulis ilmiah diuji. Bagian hasil harus bisa dibaca oleh siapa pun, dari sudut pandang manapun, dan mereka akan menemukan fakta yang sama persis, tanpa terpengaruh opini penulis.

Isinya berupa data statistik, tabel, grafik, atau deskripsi naratif dari apa yang diamati selama penelitian berlangsung.

Contoh kalimat yang tepat untuk bagian hasil:

“Skor rata-rata pemahaman siswa pada kelompok eksperimen adalah 78,5, sedangkan kelompok kontrol 65,2.”

Kalimat ini murni melaporkan angka. Tidak ada penilaian, tidak ada dugaan penyebab, tidak ada perbandingan dengan teori tertentu.

Jika penelitian menggunakan pendekatan kualitatif, prinsipnya tetap sama. Kutipan wawancara atau hasil observasi disajikan apa adanya, biasanya dikelompokkan berdasarkan tema, tanpa embel-embel interpretasi penulis di baris yang sama.

#2. Yang Tidak Boleh Ada

Tanda paling jelas bahwa sebuah kalimat sudah keluar dari wilayah hasil adalah munculnya kata-kata yang menyiratkan sebab-akibat atau makna.

Kata-kata seperti “menunjukkan bahwa”, “hal ini membuktikan”, “ini mengindikasikan”, atau “hal ini disebabkan oleh” adalah sinyal kuat bahwa penulis sudah mulai berargumen, bukan lagi melaporkan.

Contoh kesalahan yang umum ditemukan:

“Skor rata-rata kelompok eksperimen lebih tinggi, ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran baru efektif.”

Bagian pertama kalimat ini, soal skor yang lebih tinggi, memang tempatnya di hasil.

Tapi bagian kedua, “ini menunjukkan bahwa metode pembelajaran baru efektif”, adalah kesimpulan. Kesimpulan semacam ini butuh dukungan argumen lebih jauh, bukan sekadar ditempel begitu saja setelah angka.

Kesimpulan itu seharusnya dipindahkan ke bagian pembahasan, lalu dikembangkan lebih jauh di sana: mengapa efektivitas ini masuk akal, apakah sejalan dengan teori tertentu, dan apa implikasinya.

Apa yang Boleh dan Tidak Boleh Ada di Bagian Pembahasan

#1. Yang Boleh Ada

Jika hasil adalah tempat data berbicara, pembahasan adalah tempat penulis berbicara.

Di sinilah kualitas seorang peneliti benar-benar terlihat. Reviewer bisa menilai seberapa dalam penulis memahami bidangnya lewat cara ia menafsirkan data yang sama dengan yang dilihat semua orang.

Beberapa elemen yang biasanya ada di bagian ini:

  • Interpretasi makna dari temuan, dijelaskan dengan logika yang runtut
  • Perbandingan dengan hasil penelitian terdahulu, baik yang sejalan maupun yang bertentangan
  • Penjelasan mengapa temuan tersebut bisa terjadi, biasanya dikaitkan dengan teori atau kondisi lapangan
  • Implikasi teoretis maupun praktis dari temuan tersebut
  • Pengakuan jujur atas keterbatasan penelitian

Pembahasan yang kuat biasanya tidak berhenti di “apa yang ditemukan sejalan dengan teori X”. Ia melangkah lebih jauh dengan bertanya “mengapa bisa sejalan, dan apa yang bisa dipelajari dari kesejajaran ini untuk konteks yang lebih luas”.

Begitu juga saat temuan bertentangan dengan penelitian sebelumnya. Alih-alih menghindarinya, pembahasan yang baik justru mengeksplorasi kemungkinan penyebab pertentangan tersebut, apakah karena perbedaan metode, konteks, atau populasi penelitian.

#2. Yang Tidak Boleh Ada

Kesalahan paling umum di bagian ini adalah mengulang data mentah secara detail, seolah pembaca belum membaca bagian hasil sama sekali.

Contoh kesalahan umum:

“Skor rata-rata kelompok eksperimen adalah 78,5 dan kelompok kontrol 65,2. Skor kelompok eksperimen lebih tinggi 13,3 poin dibanding kelompok kontrol.”

Dua kalimat ini murni mengulang angka yang sudah disebutkan sebelumnya di bagian hasil, tanpa menambahkan satu pun lapisan interpretasi baru.

Pembaca yang teliti akan bertanya: lalu kenapa? Apa maknanya bagi bidang pendidikan? Apakah 13,3 poin ini signifikan secara praktis, bukan cuma statistik?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seharusnya dijawab di bagian pembahasan, bukan justru pengulangan angka yang sama.

Tabel Perbandingan Singkat

AspekHasil (Result)Pembahasan (Discussion)
FungsiMelaporkan temuanMenginterpretasi temuan
SifatObjektif, faktualAnalitis, argumentatif
IsiData, tabel, grafikMakna, perbandingan, implikasi
Kata kunci“ditemukan”, “menunjukkan angka”“hal ini mengindikasikan”, “sejalan dengan”
Rujukan ke penelitian lainBiasanya tidak adaSering ada, untuk membandingkan

Tabel ini bisa dijadikan checklist cepat saat proses self-editing, terutama sebelum naskah dikirim ke jurnal.

Cara Praktis Memisahkan Kedua Bagian Ini

#1. Tulis Hasil Dulu Tanpa Melihat Teori

Cara ini terdengar aneh, tapi cukup efektif.

Coba tuliskan bagian hasil seolah-olah Anda belum pernah membaca literatur terkait topik penelitian ini sama sekali.

Bayangkan Anda hanya seorang pencatat data yang netral. Tugas Anda hanya melaporkan apa yang terlihat di layar analisis atau di catatan lapangan.

Cara ini memaksa otak untuk fokus pada fakta murni, alih-alih langsung meloncat ke kesimpulan yang sebenarnya sudah terbentuk di kepala sejak lama.

Setelah bagian hasil selesai ditulis dengan cara ini, barulah teori dan literatur dibuka kembali untuk menyusun bagian pembahasan.

#2. Gunakan “Tes Pertanyaan”

Setiap kalimat yang ditulis, coba tanyakan pada diri sendiri: kalimat ini menjawab pertanyaan “apa yang ditemukan” atau “apa artinya”?

Jika jawabannya “apa yang ditemukan”, kalimat itu tempatnya di bagian hasil.

Jika jawabannya “apa artinya”, atau “mengapa ini penting”, kalimat itu tempatnya di bagian pembahasan.

Tes sederhana ini bisa dilakukan kalimat demi kalimat, terutama saat proses revisi naskah yang sudah jadi.

#3. Baca Ulang dengan Mencari Kata Interpretatif

Coba baca ulang bagian hasil yang sudah ditulis, lalu cari kata-kata seperti “menunjukkan”, “membuktikan”, “mengindikasikan”, atau “disebabkan oleh”.

Setiap kali kata-kata ini muncul di bagian hasil, itu adalah sinyal bahwa kalimat tersebut sebenarnya lebih cocok berada di bagian pembahasan.

Teknik ini sederhana, tapi cukup ampuh untuk menangkap “kebocoran” interpretasi yang sering tidak disadari penulis sendiri saat menulis draf pertama.

Kesalahan yang Paling Sering Terjadi

Beberapa jurnal memang mengizinkan bagian “Hasil dan Pembahasan” digabung menjadi satu bagian, terutama untuk penelitian dengan pendekatan kualitatif.

Namun, meski digabung secara struktur, prinsip pemisahan antara fakta dan interpretasi tetap harus dijaga, bahkan di dalam paragraf yang sama.

Kesalahan paling umum yang terjadi, baik pada naskah dengan bagian terpisah maupun tergabung, adalah penulis merasa sudah “membahas” padahal hanya mengulang angka dengan kalimat yang lebih panjang dan lebih rumit.

Cara mengeceknya cukup sederhana. Coba hapus satu kalimat, lalu tanyakan: kalau kalimat ini dihilangkan, apakah pembaca kehilangan insight baru, atau hanya kehilangan pengulangan data yang sudah mereka baca sebelumnya?

Jika jawabannya “hanya kehilangan pengulangan”, kalimat itu sebaiknya dihapus atau ditulis ulang agar benar-benar menambahkan nilai analisis.

Kesimpulan

Hasil melaporkan apa yang terjadi. Pembahasan menjelaskan mengapa itu penting.

Kedengarannya sederhana, tapi dalam praktiknya perbedaan ini adalah salah satu sumber revisi paling umum dari reviewer jurnal.

Memahami dan menerapkan perbedaan ini secara konsisten membuat naskah menjadi lebih tajam. Reviewer tidak perlu menebak-nebak lagi mana yang fakta dan mana yang argumen penulis.

Sebelum masuk ke bagian hasil dan pembahasan, pastikan juga gap penelitian di pendahuluan sudah dirumuskan dengan jelas. Pembahasan yang kuat hampir selalu merujuk kembali ke gap tersebut, menunjukkan bagaimana temuan penelitian ini mengisi celah yang sebelumnya sudah diidentifikasi.