Gap Penelitian: Panduan Lengkap untuk Pemula (+Contoh & Cara Menemukannya)

Siska Wulandari Lubis

Update

6 menit

Kalau Anda sedang menyusun proposal skripsi, tesis, atau naskah jurnal, kemungkinan besar Anda pernah mentok di satu pertanyaan yang sama: “Apa gap penelitian saya?”

Pertanyaan ini sering membuat frustrasi, terutama karena tidak banyak mata kuliah metodologi penelitian yang benar-benar mengajarkannya secara praktis. Kebanyakan penjelasan di buku metodologi hanya menyebutkan istilahnya tanpa menunjukkan cara menemukannya di dunia nyata.

Kabar baiknya, gap penelitian sebenarnya bukan konsep yang rumit begitu Anda tahu cara mencarinya. Di panduan ini, kita akan membahas semuanya dari dasar: mulai dari pengertian, kenapa ia penting, jenis-jenisnya, cara menemukannya langkah demi langkah, contoh nyata, sampai cara menuliskannya dengan baik di naskah Anda.

Apa itu Gap Penelitian?

Gap penelitian (research gap) adalah celah atau area yang belum terjawab, belum diteliti secara mendalam, atau masih diperdebatkan dalam suatu bidang keilmuan berdasarkan literatur yang sudah ada.

Sederhananya, gap penelitian adalah jawaban dari pertanyaan: “Apa yang belum diketahui atau belum dijawab oleh penelitian-penelitian sebelumnya, yang penelitian saya bisa isi?”

Gap ini bisa berupa:

  • Topik yang belum pernah diteliti sama sekali
  • Topik yang sudah diteliti, tapi hasilnya masih bertentangan antar peneliti
  • Metode yang belum pernah dipakai untuk menjawab suatu masalah
  • Populasi atau konteks (misalnya wilayah, budaya, jenjang pendidikan) yang belum pernah diteliti
  • Variabel yang belum pernah dihubungkan satu sama lain.

Gap penelitian inilah yang menjadi alasan mengapa penelitian Anda “layak dilakukan” — ia menunjukkan kontribusi (novelty) yang membedakan karya Anda dari penelitian-penelitian sebelumnya.

Kenapa Gap Penelitian Penting?

Gap penelitian bukan sekadar formalitas di bagian latar belakang. Ia menjadi fondasi dari seluruh penelitian Anda, dengan beberapa alasan berikut.

Reviewer jurnal maupun dosen pembimbing hampir selalu bertanya: “Apa yang baru dari penelitian ini?” Gap penelitian adalah jawaban langsung atas pertanyaan tersebut.

#2. Mengarahkan rumusan masalah dan tujuan penelitian

Begitu gap ditemukan, rumusan masalah dan tujuan penelitian biasanya akan mengalir secara alami, karena keduanya pada dasarnya adalah upaya menjawab gap tersebut.

#3. Memperkuat justifikasi metode dan desain penelitian

Jenis gap yang Anda temukan (metodologis, kontekstual, konseptual, dll) akan sangat memengaruhi metode apa yang paling tepat digunakan.

#4. Meningkatkan peluang publikasi

Jurnal ilmiah cenderung menolak naskah yang hanya mengulang penelitian sebelumnya tanpa kontribusi baru. Gap penelitian yang jelas membuat naskah lebih mudah diterima reviewer.

Jenis-Jenis Gap Penelitian

Memahami jenis-jenis gap akan memudahkan Anda mencarinya secara lebih terarah. Berikut jenis yang paling umum digunakan dalam literatur metodologi penelitian.

#1. Knowledge gap (gap pengetahuan)

Topik atau fenomena yang sama sekali belum pernah diteliti, atau baru diteliti sangat terbatas.

#2. Contradiction/conflicting results gap

Beberapa penelitian sebelumnya menghasilkan temuan yang saling bertentangan tentang suatu topik, dan belum ada yang mencoba merekonsiliasi perbedaan tersebut.

#3. Methodological gap

Suatu topik sudah banyak diteliti, tetapi dengan metode yang terbatas (misalnya selalu kuantitatif, padahal pendekatan kualitatif atau mixed-method belum pernah dicoba).

#4. Population/contextual gap

Penelitian sudah banyak dilakukan, tetapi pada populasi, wilayah, budaya, atau jenjang pendidikan tertentu yang berbeda dari konteks Anda. Misalnya, penelitian tentang model pembelajaran tertentu sudah banyak dilakukan di SMA, tapi belum ada yang meneliti di pesantren atau madrasah.

#5. Theoretical gap

Ada fenomena yang belum bisa dijelaskan secara memadai oleh teori yang ada, sehingga dibutuhkan pengembangan atau modifikasi teori.

#6. Evidence gap

Klaim atau rekomendasi kebijakan tertentu sudah beredar luas, tetapi belum benar-benar didukung oleh bukti empiris yang memadai.

Cara Menemukan Gap Penelitian

Berikut langkah-langkah praktis yang bisa Anda ikuti untuk menemukan gap penelitian, dari yang paling mendasar sampai yang lebih teknis.

Lakukan tinjauan literatur (literature review) secara sistematis

Kumpulkan minimal 15–20 artikel jurnal terbaru (idealnya 5 tahun terakhir) yang relevan dengan topik Anda. Semakin sistematis Anda memetakan literatur ini, semakin mudah pola gap-nya terlihat.

Perhatikan bagian “saran” atau “limitations” di penelitian sebelumnya

Banyak peneliti secara eksplisit menuliskan keterbatasan penelitian mereka dan menyarankan arah penelitian selanjutnya di bagian akhir artikel. Ini adalah sumber gap yang paling mudah ditemukan.

Buat matriks atau tabel perbandingan penelitian terdahulu

Buat tabel berisi kolom: penulis, tahun, variabel, metode, populasi, dan temuan utama. Dengan membandingkan baris-baris ini secara berdampingan, pola yang belum diteliti akan lebih mudah terlihat.

Gunakan database akademik untuk memperluas pencarian

Manfaatkan Google Scholar, Scopus, Sinta, DOAJ, atau Garuda untuk menelusuri seberapa banyak penelitian tentang topik Anda sudah dilakukan, dan pada konteks apa saja.

Bandingkan teori dengan praktik di lapangan

Terkadang gap muncul bukan dari kekurangan literatur, tapi dari kesenjangan antara apa yang dikatakan teori dan apa yang sebenarnya terjadi di lapangan (practical gap).

Diskusikan dengan dosen pembimbing atau komunitas akademik

Diskusi langsung sering membantu mempertajam gap yang sudah Anda temukan sendiri, sekaligus menghindari gap yang ternyata sudah pernah diteliti orang lain.

Contoh Gap Penelitian

Agar lebih konkret, berikut beberapa contoh sederhana penulisan gap penelitian berdasarkan jenisnya.

  • Knowledge gap: “Penelitian mengenai penerapan model pembelajaran berbasis proyek pada mata pelajaran Fikih di Madrasah Tsanawiyah masih sangat terbatas, sehingga belum diketahui efektivitasnya secara empiris.”
  • Contradiction gap: “Studi terdahulu menunjukkan hasil yang tidak konsisten mengenai pengaruh kedisiplinan belajar terhadap prestasi akademik, di mana sebagian menemukan pengaruh signifikan sementara sebagian lain tidak.”
  • Methodological gap: “Sebagian besar penelitian tentang motivasi belajar siswa menggunakan pendekatan kuantitatif survei, sementara penggalian pengalaman siswa secara mendalam melalui pendekatan kualitatif masih jarang dilakukan.”
  • Contextual gap: “Penelitian tentang implementasi kurikulum merdeka telah banyak dilakukan di sekolah perkotaan, namun studi pada sekolah di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal) masih minim.”

Cara Menulis Gap Penelitian dalam Skripsi, Tesis, atau Artikel Jurnal

Setelah menemukan gap-nya, langkah berikutnya adalah menuliskannya dengan struktur yang jelas. Berikut alur yang umum dipakai dan mudah diikuti.

  • Mulai dari kondisi umum topik — jelaskan pentingnya topik tersebut secara luas.
  • Ringkas apa yang sudah diketahui — paparkan secara singkat temuan-temuan dari penelitian terdahulu yang relevan (jangan terlalu panjang, cukup 3–5 kalimat kunci).
  • Nyatakan gap-nya secara eksplisit — gunakan frasa seperti “namun, belum ada penelitian yang…”, “penelitian sebelumnya belum membahas…”, atau “masih terdapat inkonsistensi mengenai…”.
  • Jelaskan bagaimana penelitian Anda mengisi gap tersebut — sampaikan kontribusi spesifik penelitian Anda terhadap gap yang sudah disebutkan.

Struktur ini biasanya ditulis di bagian akhir latar belakang, tepat sebelum rumusan masalah.

Kesalahan Umum dalam Menentukan Gap Penelitian

Beberapa kesalahan berikut sering ditemui, terutama pada peneliti pemula:

  • Gap terlalu umum, misalnya hanya menulis “penelitian tentang ini masih kurang” tanpa merujuk pada literatur konkret.
  • Gap tidak didukung sitasi, sehingga klaim tersebut terkesan asumsi, bukan hasil kajian literatur.
  • Gap sebenarnya sudah banyak diteliti, hanya saja penulis tidak melakukan penelusuran literatur yang cukup luas.
  • Gap tidak relevan dengan rumusan masalah, di mana bagian latar belakang menyebut satu gap, tapi rumusan masalah membahas hal yang berbeda.

Menghindari kesalahan-kesalahan ini akan membuat argumen kebaruan penelitian Anda jauh lebih kuat di mata pembimbing maupun reviewer jurnal.

Penutup

Menemukan gap penelitian memang butuh proses membaca dan memetakan literatur yang cukup intensif, tapi begitu Anda memahami jenis-jenis dan pola pencariannya, prosesnya akan jauh lebih terarah dibanding sekadar menebak-nebak topik.

Jika Anda memiliki pertanyaan tentang ini, jangan sungkan untuk menuliskannya di dalam kolom komentar.